Thursday, July 09, 2009

Artis Terhebat


Pagi ini saya tersentuh waktu baca satu ayat yg terambil dr Efesus 2:10 bunyinya,"For we are God's workmanship, created in Christ Jesus to do good works, which God prepared in advance for us to do." Lalu di dalam renungannya, penulis berkata, 'Sebagai hasil karya Tuhan, menurut rasul Paulus, kita harus menghasilkan sesuatu, kita tidak boleh cuma duduk diam di museum persekutuan, tapi kita harus menyatakan kasih Tuhan dengan cara melakukan pekerjaan2 baik. Tuhan Yesus juga berkata bahwa pekerjaan baik memuliakan Bapa di Surga (Mat 5:16)'

Sebelumnya, saya sempat berkata ke suami saya, dari kecil, saya paling benci dengan jari2 tangan saya yg besar2 spt tangan cowok, saya kan cewek kenapa Tuhan ga kasih saya jari yg kecil dan bagus spt selayaknya tangan cewek. Orang2 bilang, jari2 tangan saya seperti tangan Papi saya dan biasanya kalau ketemu (saya ga tinggal dgn Papi) beliau suka memuji (dengan nada bangga),"eh... jari kita sama", oh... andai saja Papi tau betapa saya mendambakan tangan yang imut2 seperti tangan cewek2 yg normal.

Tapi Tuhan memang Artis Terhebat, Dia tau apa yg terbaik dan bisa mengubah yg tidak indah jd indah dgn cara yg lain. Dgn tangan yg menurut saya jelek ini, Dia memberikan saya kesempatan untuk bisa bermain organ di gereja, untuk memuliakan Tuhan. He's the Greatest. Walaupun tangan ini jelek, tapi dengan talenta pemberianNya, kesempatan untuk melayani dan berlatih, saya bisa memainkan lagu2 indah buat Dia :), hanya untuk Tuhan. Praise The Lord...

Saya jd teringat kenangan manis waktu sekitar 20 thn lalu sempat kuliah di IPB Bogor selama setahun, tempat favorit saya adalah kebun raya Bogor, banyak pohon2 tua di sana, yang entah sudah berapa ratus tahun umurnya. Ada 2 pohon tua yg berkesan di benak saya, kedua pohon itu tertanam berseberangan jalan tapi cabang keduanya bisa bertemu dan membentuk kepangan seperti dua sahabat yg bergandeng tangan, sungguh amazing. Itu pekerjaan tangan Tuhan, amazing dan beautifully made.

Setiap kali teringat pohon itu, saya diingatkan terus seberapa pun besar usaha manusia, kalau bukan kehendakNya atau ada campur tanganNya, jadinya akan biasa2 saja, tapi kalau mau berserah ke dalam campur tanganNya, yg jelek bs jadi sesuatu indah dan berguna, seperti tanah liat di tangan penjunan.

Intinya berserah kepada Tuhan yg Besar dan Baik... Praise The Lord

Wednesday, July 08, 2009

Utang


Wah ngomong2 soal utang nih, waktu masih kecil, nenek saya selalu bilang, jangan pernah utang sama orang lain, apalagi utang budi, ga bs dibayar, mendingan kelaparan drpd pinjam uang sama orang... jadi saya ga suka dengan yg namanya 'pinjam', kecuali kalau orang lain yg minjam :)

Tapi toh ada satu utang besar yg kita bawa sbg manusia, utang sama Tuhan. Dia udh kasih begitu banyak... buanyak banget. Ada temen saya yg ga suka kalo saya pake istilah utang ke Tuhan, obligation? responsibility? komitmen? Hm... karena buat saya utang adalah sesuatu yg pamali, untuk menunjang pelayanan, saya pakai kata 'utang'. (Keras kepala, ktnya) Prioritas dong, cuma buat Tuhan aja boleh...

Pelayanan harus datang dr hati, hati saya punya perasaan berutang sama Tuhan untuk semua yg indah sudah Tuhan berikan dalam hidup saya, jd saya fokusnya kalau pelayanan juga memberikan seindah mungkin untuk kemuliaan nama Tuhan. Inget lagu 'Hati sebagai hamba', hamba yg punya perasaan utang budi sama majikan yg biasanya lbh awet dan setia, karena ga abis2 utangnya jd kalo bs bayar pake hidupnya.

Punya hati yg merasa berutang sama Tuhan aja udh merupakan berkat tersendiri, ga semua org bs mengerti dan memiliki pengertian seperti itu. Wah, kalo 3/4 jemaat gereja punya hati seperti seorang hamba, pasti indahnya... tiap orang punya hati saling melayani sambil memuliakan Tuhan, hm...

Nulis2 ttg utang, semua berkat Tuhan dlm hidup saya itu utang saya, jd waktu pertama kali terima Tuhan Yesus, saya menyerahkan seluruh hidup saya yg hina dan tidak berharga ini untuk dipakai olehNya, Dia yg atur, Dia yg melengkapi, Dia yg membuat semua indah pada waktuNya. Thank You, God for everything... You're The Best

Monday, June 29, 2009

Bersyukur

Udah seminggu lebih, kami balik ke Spore setelah liburan di indo selama seminggu. Kebanyakan tinggal di Bogor dan Lampung, tempat tinggalnya ade ipar. Mereka very friendly, kami juga senang bisa ketemu lagi setelah 3 tahun ga ketemu. Wah, yg dulunya masih imut2 sekarang sudah pada tinggi menjulang. Yang 3 tahun lalu belum lahir, sekarang udh bisa lari2 dan ngomelin orang, hehehe... Overall, kami senang menikmati liburan yg menurut kebanyakan org terlalu singkat ini. Hm... kalo senang tentu ga pernah cukup ya waktunya.
Sebelum pergi, saya banyak spend time di depan laptop, ngobrol ama temen2 lama, nulis2 email, artikel, Main Game... nah ini dia yg buruknya. Banyak yg jd addicted, dan keterusan. Saya bersyukur dr liburan ini, Tuhan bantu saya untuk ngerem main gamenya, memang hati juga udah ga damai selama masih main game itu, wasting His time, n my own time. Emotionally juga jd terganggu, jd egois, mikirin diri sendiri dan ga mau diganggu. That's not good.
Pikiran juga ruwet jadinya, karena mikirin kesitu terus, ga pedulian deh... sama beberapa temen juga jd ketus, jd jahat deh. Selama liburan, krn banyak ikut orang, lihat suasana indo, di mana orang2 masih banyak yg hidup sederhana, quiet, tentram deh, jd saya juga banyak diam dan merenung, lumayan ada waktu untuk meditasi, back to Him. Lihat tanah2 pedesaan, tanaman padi yg tumbuh rapih dan terawat dipelihara sama petani dan Tuhan tentunya, begitu indah. Dari yang setiap hari lihat laptop, lalu lht semua itu, so amazing, we can see the real world out there.
Sebelum liburan, khawatir dengan mulai menyebarnya flu babi. Aman ga ya? Puji Tuhan, semua ok2 aja, walaupun krn udara yg panas, kt semua kena batuk juga. :) makannya pd ga ngerem, hihihi... pake prinsip aji mumpung terus sih.
Satu lagi, katanya harus di-mention. Rambut baru, hihihi... karena mau murah, potong di Lampung eh... berantakan, balik ke Spore saya potong habis (nge-bob deh), surprisingly, banyak yg heboh melihat rambut baru ini, aneh kah? Hm.... kocak juga.
Thank God for everything, so lovely and beautiful and fun...

Wednesday, May 27, 2009

Farm Town

Wah bukan mau omongin tentang games ya... mumpung lagi hot2nya main Farm Town, pake judul itu deh. Mestinya nyambung sih, hehehe...
Tadi pagi baca renungan tentang 'weeds' (ilalang), yang mengibaratkan dosa. Ada 2 anak yang ketemu 'hidden garden' ada beberapa pohon tomat yang tersembunyi di balik ilalang yang tumbuh tinggi2. Ayah mereka mengatakan, demikian juga dengan hati manusia, tiap hari mesti mengakui dosa dan minta ampun dengan demikian kita membersihkan hati kita dari ilalang yang lama2 akan terus tumbuh dan menutupi hasil ladang kita yg sebenarnya...
Kalau di Farm Town, lama2 tidak dipanen, bisa busuk hasil ladangnya, begitu juga talenta yg Tuhan berikan, ditutupi dosa, lama2 yg nampak malah yg jelek2.
Saya ingat seorang sepupu saya, dia dibesarkan di tengah2 keluarga yg lengkap dan indah, dengan 3 big brothers, karena stress dia jatuh ke obat2an lalu satu hari digotong pulang oleh teman2nya sudah tidak sadarkan diri, tak lama kemudian meninggal dunia.
Tetangga kami menilai dia sebagai anak yg badung, ini-itu, semua komen yg jelek, padahal yang saya tau dia seorang yg manis perawakannya dan juga baik hatinya.
Sungguh sayang sekali.
Hidup manusia memang harus back to Him, Dia yang menciptakan tentu saja cuma Dia yg tau apa yg terbaik untuk kita ciptaanNya.
Jangan lupa ya tiap hari ngaku dosa dan minta ampun supaya terus punya hati yang bersih...

Tuesday, May 26, 2009

Ketemu temen baik (old friend)

Hah... ketemu temen lama, beribu2 perasaan muncul... suka duka, sebel, keki, geli... ada2 aja. Gara2 facebook, ketemu temen2 lama sampe temen SD juga nongol semua...Amazing... saya cuma bisa bersyukur sama Tuhan, inget2 jaman nenek dulu, kalo ada dendam sakit hati atau apa aja, ga bs selesai dibawa terus sampai liang kubur. Eh,,, gara2 FB, bukan cuma kenangan tapi juga masalah yg berlanjut, nah loh...

Kemarin sempet telpon n ngobrol sama satu sohib karib di SMP yg lost contact, wah sampe histeris dan terharu, setelah ngobrol ama dia sebentar, sempet berkaca2 mata saya, Tuhan baik ya...

Thursday, May 21, 2009

Renungan Ultah


Kemarin pagi, saya terima kartu ultah dr Komisi Wanita GPBB (thanks ya), di dalam kartunya ditulis demikian,"The day you were born... God said,"That's good!"".

Setelah baca kalimat itu, hati saya bercampur aduk perasaannya. Bingung, merinding, masa lalu yg suram pada 'flash back' lagi. Bingungnya juga bercampur sedikit marah, hah???!!! hidup saya banyak sedih dan masalah begini kok Tuhan bilang 'good'??? Emangnya Tuhan senang kalau saya menjalani hidup yang susah itu? Kok jahat sih? Bersukacita di atas penderitaan orang?

Pagi tadi, waktu sama2 baca Firman Tuhan sama Nathania, kami membaca dr 1Petrus2:1-5. Ada satu ayat yg di-'highlight' oleh Tuhan untuk saya, yaitu di ayat 5 bunyinya,"you also, like living stones, are being built into a spiritual houseto be a holy priesthood, offering spiritual sacrifices acceptable to God through Jesus Christ."

Tuhan bilang,"you also..." "you also..." hati saya menangis mendengarnya.

Sedari saya masih kecil, saya selalu berpikir kalau hari kelahiran saya itu dikutuk, karena hidup saya jalannya tidak normal seperti jalan hidup semua orang yg saya kenal. Saya sering bilang sama temen2 deket kalau bisa mati sekarang wah... saya akan senang sekali karena bisa langsung ketemu Tuhan dan saya bisa langsung nanya kenapa saya diberikan hidup yang seperti ini? Tiap kali saya bilang begitu, saya penasaran juga ga bs terima banget. Hidup dan hati saya seperti dipermainkan, and I am the joker... Saya benci sekali sama hidup saya ini...not nice at all.

Waktu di SMA, saya nantangin Tuhan, dr kecil saya rajin ke Sekolah Minggu, walau masih kecil dan harus pergi sendiri, saya rajin pergi tiap minggu. Tiap kali di Sekolah Minggu dibilangin kalau Tuhan itu baik, saya bilang, saya mau bukti. Setelah itu, saya menganggap hati/hidup saya sudah mati. Saya jalani hidup ini seperti robot, ada peluang, ambil; ada masalah, cuek (emang gua pikirin)... mati rasa deh pokoknya.

Tapi terus, dengan demikian, Tuhan bener2 bimbing, Dia atur semuanya sesuai dengan kehendakNya, dan amazingly, apa yg dulu saya pikir mustahil (untuk saya miliki/rasakan) semua jadi mungkin... sungguh ajaib dan hebat Tuhan. Dan perkataan di kartu itu benar2 jd indah setelah merenungkan semua yg sudah Tuhan buat dalam hidup saya hingga saat ini...

Kalau Dia tidak habis2nya memberkati kehidupan saya, saya juga tidak habis2nya mengucap syukur untuk semua berkat2Nya yg melimpah... Dulu, pekerjaanNya belum selesai, sekarang sudah mulai kelihatan dan belum lagi selesai tapi kalau dilihat dengan kacamata iman, semuanya benar2 Dia atur indah pada waktuNya. Praise The Lord...

Saya ingat, waktu mau dibaptis dulu, saya ga confident apa saya layak untuk dibaptis, masuk jd anggota keluargaNya, siapa saya ini...org yg terhina dr yg terhina... tp Pak Santoni, yg membaptis saya bilang, kalau kamu bisa datang ke sini saja berarti Dia sudah memilih kamu, kalau Dia berkenan untuk kamu bs dibaptis, pasti bisa dibaptis, kalau tidak pasti ga akan bisa dibaptis. Akhirnya, tgl 20 Juni 1993, saya dibaptis. Praise The Lord...

Setiap kali ultah datang, perasaan saya juga campur aduk, harus happy kah, atau sedih... kalau saya happy, takut kalau2 semua itu cuma semu (angan2) saja. Tapi kan ultah harusnya happy, bukan sedih... Jadi setiap saya ultah, saya happy karena Tuhan sudah memimpin sampai di sini (Eben-Haezer). Again, Praise The Lord...

Thursday, May 07, 2009

Wacth Your Words


Jumat pagi yg lalu mendung (bukan di luar, tp di hati). Sehari sebelumnya, suara hati ingetin kayaknya saya 'say something wrong again' sama seseorang. Buat orang2, ya namanya juga manusia, itu sudah biasa lah... Tapi buat saya 'it's not ok', terus terang, tiap kali kejadian 'salah omong', saya stress sampe mau mati aja rasanya... Very very bad

Tiap kali kejadian, saya bertanya2, salah dimana, kenapa saya kok begitu... kenapa ini mulut ga dibuat bisu aja biar ga bs omong sekalian, tp 'say something' juga bs lewat tulisan (spt sekarang ini).

Saya suka berpikir mungkin karena waktu saya kecil, ga ada ortu yang mendidik, (sekarang baru tau, betapa pentingnya peran ortu dlm kehidupan seorang anak), saya jd orang yg ga PD (percaya diri), minder, gampang jatuh (sensitif, super sensitif). Ditambah lagi, saya diasuh oleh nenek saya yg rasa tanggung jawabnya besar sekali, saya waktu kecil banyak dikekang, ga boleh bergaul, ga boleh main di luar rumah, cuma bs duduk dibalik teralis pintu lihatin anak2 lain main di jalan.

Saya perhatiin anak2 saya, saya bedakan, kalau ada ortu, tiap kali anak buat salah, dimarahin, dididik (diajarin kenapa ga boleh begitu), saya rasa saya 'miss that part', saya dimarahin, dipukul jg kadang2, tapi ga dikasih tau kenapa ga boleh dan harus bagaimana.

Itukah penyebab yang sesungguhnya? Kenapa Tuhan yang mau memakai saya dalam pelayanan, Dia juga yang memberkati setiap pelayanan saya, tapi kenapa yang 'jelek' ini tidak dihapus saja?

Setiap kali saya 'salah omong', saya menyebutnya penyakit lama kambuh lagi, tiap kali kumat, saya down banget, terus bertanya-tanya kenapa Tuhan membiarkan itu terjadi. Saya malu sekali, sebagai orang yg suka nulis kesaksian, sebagai orang yg suka mengaku kalau hidupnya hanya untuk memuji Tuhan, sebagai orang yang mengaku terkadang suka mendengar suaraNya, sebagai orang yang mengaku bener2 'devoted' (benar2 hidup hanya karena dan untuk Tuhan), ... kok omongannya suka salah... malu deh rasanya.

Hari ini, Pdt. Johnny membawakan firman ttg 'Belajar untuk Rendah Diri dari Tuhan Yesus', ayat yg dipakai dr Yoh 13:12-17 yaitu ketika Tuhan Yesus membasuh kaki para muridNya. Belajar untuk rendah diri... dan (seperti biasa) Roh Kudus berbicara dan membuka mata hati saya yg bbrapa hari ini ditutupi rasa 'benci terhadap diri sendiri' itu.

Selama ini, dalam beberapa tahun ini, banyak perkembangan yang saya alami dalam setiap pelayanan yang saya lakukan. Misalnya di bidang musik (sbg organis di kebaktian) saya sungguh kagum, betapa Tuhan memakai dan mengubah hambaNya ini, dgn tangan dan kaki yang secara phisic tidak sempurna, tapi Dia mau pakai dan menambahkan berkatNya terus, saya ingat setahun yg lalu saya masih 'struggling' main bass (kaki) organ, sekarang saya (puji Tuhan) sudah mulai biasa. Yang dulu saya pikir tidak mungkin, itu terjadi...

Sebagai salah satu writer untuk buletin wanita Agape, tiap kali tema baru keluar (puji Tuhan) selalu dapat ide, pernah satu kali bahkan sebelum ditentukan tema berikutnya, artikelnya sudah selesai saya kerjakan. Dan kalau dipikir2, waktu sekolah dulu, salah satu pelajaran yang paling saya benci adalah mengarang... tiap kali lihat kertas kosong, kosong pula otak saya...:)

Semua itu berkat Tuhan, untuk semua itu saya tidak pernah berhenti mengucap syukur kepadaNya, hari ini saya diajak melihat sesuatu yang lain dari kacamata Tuhan. Ketika Dia membiarkan 'penyakit lama' saya itu tetap ada adalah karena Dia ingin saya selalu ingat bahwa saya ini belum mencapai 'serupa seperti Yesus', saya masih dalam proses... (masih harus terus berusaha) dan supaya saya tidak menjadi 'sombong' dan puas lalu berhenti. Terkadang saya merasa cukup atas segala pelayanan yang sudah saya lakukan dan (terkadang) mulai membandingkan dengan teman2 yg tidak terlibat dalam pelayanan, saya merasa sepertinya sudah terlalu banyak yang saya lakukan dan kemudian saya mulai 'slow down'.

Seperti Paulus yang menyebutnya 'duri dalam daging' dalam 2 Kor12:7, "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan2 yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaituseorang utusan iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri."

Saya bersyukur saya bisa belajar untuk menerima 'penyakit lama' saya itu, setelah semua yang Dia lakukan dalam hidup saya, apalagi yang saya alami semua adalah untuk memuliakan namaNya, saya bersedia, Tuhan...

Terima kasih Tuhan, Engkau tau yang terbaik untuk saya, dan yang terbaik yang selalu Engkau berikan, seperti janjiMu, dalam setiap saat (apapun yang saya alami/hadapi), terima kasih Engkau selalu ada dan menyertai dan saya tidak pernah sendiri... Terpujilah Engkau.

Tuesday, May 05, 2009

Status – Anak vs Hamba


Tiap malam saya suka baca Alkitab sama anak2, satu malam satu bagian cerita. Kami mulai dari Kejadian dan sekarang sudah sampai cerita raja Daud. Saya merasa kagum sekali mendengar cerita orang2 di jaman Perjanjian Lama, sungguh kontras sekali. Sekaya apapun mereka, mereka tetap menempatkan diri mereka sebagai hamba, bukan cuma dalam perkataan, tapi juga dalam sikap dan perbuatan. Abraham, bukan hanya taat dan rendah diri di hadapan Tuhan (Kej 12), tapi dia hormat juga kepada orang yang tidak dia kenal (Kej 18:2). Daud (2Sam 7:18-29) dan Salomo (1Raja2 3:1-15), raja pilihan Tuhan menyatakan diri mereka sebagai hamba Tuhan dalam doa2 mereka kepada Tuhan.

Waktu kecil, saya hidup dengan keadaan pas2an. Orang tua merantau kerja ke luar negeri, saya diasuh oleh nenek saya. Terkadang saya bingung dengan status saya, orang tua masih ada tapi hidup seperti anak yatim piatu. Dibilang miskin, orang tua tinggal di luar negeri dan saya bisa belajar di sekolah yang baik, nge-les ini-itu; tapi dibilang kaya juga kalau kiriman telat kadang2 makan cuma seadanya. Saya suka bertanya dalam hati, sebenarnya siapa sih saya ini.

Saya ingat, pertama kali tinggal dengan keluarga saya (mama, papa dan adik2), saya pergi dengan hati penuh harapan sebagai seorang anak, berharap akan disayang, dibelikan mainan, baju yang bagus2 dll. Tapi karena dari kecil sudah jauh dari mereka, tidak ada ikatan apa2 dalam hubungan kami. Hancur sudah harapan dan hati ini, dan saya pun kehilangan status diri.

Tau kan lagu “Hati sebagai Hamba”, waktu saya denger lagu ini, saya berpikir Tuhan memberi kita status ‘anak tapi juga yang berhati seorang hamba’. Padahal anak dan hamba sangat bertolak belakang. Anak biasanya berpikir bahwa semua orang berhutang sama dia, banyak berharap, jadi kalau dapat sesuatu ya memang sudah seharusnya. Tapi kalau hamba justru berpikir bahwa dia berhutang sama majikannya, jadi turut aja dengan perintah majikannya, ada ya syukur, tidak ada ya sudah. Terus gimana dong?

Setiap kali saya sedih dengan keberadaan saya, ada satu perkataan nenek saya yang selalu teringat,’Jadi orang mesti Tau Diri’. Jadi saya berkata kepada diri saya sendiri, ’udah deh jangan minta atau harap macam2, jalanin aja hidup ini toh masih ada Tuhan.’ Setelah itu, saya tidak lagi banyak berharap, seperti kata pepatah,’orang yang semakin banyak berharap, makin banyak kecewa.’ Lagi juga sebagai orang Kristen kita tidak boleh suka berharap mendapatkan sesuatu, tapi kita kan anak2 Tuhan (Yang baik dan kaya), kita yang memberi. Walaupun saya hidup pas2an, tapi Tuhan memperkaya hati saya dengan kasihNya. Saya belajar melayani keluarga saya dan Tuhan yang memenuhi hidup saya dengan sukacita. Ternyata bukan orang yang memiliki adalah orang yang kaya, tapi orang kaya adalah orang yang bisa memberi.

Tuhan memberi saya hidup dan status yang baru yaitu sebagai anak Tuhan, sebuah hadiah terbesar dan terindah yang saya dapatkan. Diberikan bukan karena saya berhak tapi karena Dia memilih saya dan sayang sama saya. Puji Tuhan. Dia mau saya memiliki hati sebagai hamba bukan supaya saya boleh dipandang rendah tapi supaya saya sanggup menghadapi segala sesuatu yang saya alami di perjalanan hidup ini, dan bersandar hanya kepadaNya. Bukan cuma untuk saya, tapi juga untuk kita semua yang mengaku percaya kepadaNya. Di Matius 23: 11-12, Tuhan Yesus berkata,” Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Dia sendiri sudah menjadi teladan buat kita sepanjang hidupNya, sampai mati di kayu salib. Sebagai Anak, Dia tunduk kepada kehendak BapaNya yang di Surga. Jadi karena saya percaya, saya mau ikut teladanNya dan tunduk kepada Bapa Sorgawi, bagaimana dengan anda?


You are who you are for a reason.
You’re part of an intricate plan.
You’re a precious and perfect unique design,
Called God’s special woman or man.

You look like you look for a reason.
Our God made no mistake.
He knit you together within the womb,
You’re just what He wanted to make.

The parents you had were the ones He chose,
And no matter how you may feel,
They were custom-designed with God’s plan in mind,
And they bear the Master’s seal.

No, that trauma you faced was not easy.
And God wept that it hurt you so;
But it was allowed to shape your heart
So that into His likeness you’d grow.

You are who you are for a reason,
You’ve been formed by the Master’s rod.
You are who you are, beloved,
Because there is a God!


By Russell Kelfer
dikutip dari The Purpose Driven

Anak Saya Jadi Lucu atau “Sexy”?


Saya pernah mendengar perkataan, “ Kenapa ya sekarang orang pakai baju makin mini/pendek, kayak kurang bahan gitu.” Saya ingat nenek saya malah cerita, jaman beliau masih muda, yang cewek2 malah pakai baju lelaki, takut sama orang Jepang (zaman penjajahan dulu). Karena saya diasuh beliau ya, cara berpakaian saya agak convensional, demikian juga yang saya terapkan pada anak perempuan saya.

Terkadang lihat baju anak2 yang sexy2, lucu juga ya kalau dipakaikan ke anak perempuan, sampai satu kali saya membaca sebuah artikel berjudul, ‘are we turning our kids into prostitots?’ dari majalah Women’s weekly edisi May 2008.

Dr. Daniel Fung (Senior Consultant Psychiatric and Chief of the Institute of Mental Health’s Department of Child and Adolescent Psychiatry) di majalah itu memberi komentarnya, “Banyak orang tua berpikir anak mereka kelihatan lucu, tetapi menurut saya mereka tidak bermaksud memperlihatkan anak mereka sebagai objek sexual. Dengan membelikan pakaian2 yang menjadikan anak2 memiliki perasaan sexy, perlu para orang tua ketahui bahwa mereka membiasakan anak mereka dengan gaya fashion yang akan terus mereka ikuti dalam masa pertumbuhan mereka. Anak itu akan terus berpakaian demikian; kurang percaya diri, dan berpikir bahwa ‘terlihat cantik’ adalah elemen yang penting untuk dicintai.”

Artikel itu diawali dengan kasus2 penyanyi cilik luar negeri yang hamil dibawah umur. Dimana sebagai anak celebriti, biasanya pakaian2 mereka yang ber-‘merk’(yang kebanyakan dipengaruhi oleh pakaian orang dewasa), diberikan oleh sponsor. Baju dengan bagian punggung yang terbuka, rok yang mini sekali (yang mana banyak wanita dewasa ingin bisa memakainya, kalau saja bisa muat ☺).

Ada juga orang tua yang berpikir, ’kenapa tidak membiarkan anak2 itu menikmatinya (mumpung masih bisa) dan meng-ekspresikan diri mereka sendiri dengan model2 pakaian yang ada?’ Dr. Fung juga menulis,” Oleh karena itu solusinya adalah tentang keseimbangan. Saya sarankan supaya orang tua mendorong anak mereka untuk memakai berbagai macam model pakaian yang praktikal, yang mereka suka, ber-‘merk’ dan tidak ber-‘merk’, berwarna-warni, polos, dsb – supaya mereka boleh belajar bahwa mereka adalah individual dan bahwa mereka special dan dicintai walau bagaimanapun cara mereka berpakaian.”

Ada juga komen dari kepala sekolah Creative Twinkle child development centre, Christina Lim, berkata, “Cara berpakaian merupakan peluang yang baik untuk mengajarkan kepada anak2 tentang batasan dan pergaulan di lingkungan masyarakat dan juga tentunya memberikan contoh langsung kepada anak2 kita. Orang tua menentukan batasan ketika mereka mengajarkan anak2 mereka untuk berpakaian yang pantas dalam suasana yang pantas. Misalnya, memakai bikini di pantai itu normal, tapi tidak pantas kalau dipakai ke tempat ibadah atau supermarket. Orang tua adalah ‘role models’, kalau orang tuanya berpakaian dan bertingkah-laku yang pantas, anak2nya tidak akan banyak bermasalah dalam menyeimbangi dengan baik (tentang cara berpakaian dan bertingkah laku) dalam pertumbuhan mereka.”

Karena orang tua adalah ‘role model’ yang utama, adalah baik kalau kita yang menurunkan nilai2 yang baik kepada anak2 kita, jadi mereka tidak terlalu terpengaruh dengan jaman juga dalam pergaulan mereka. Toh kita tidak bisa melindungi mereka selamanya.
Kita bisa juga menggunakan ‘perasaan ketidak-nyamanan’ anak terhadap pakaian minim untuk mendidik mereka. Misalnya saja waktu saya membawa anak saya yang perempuan jalan2 di daerah Orchard Road, kalau dia melihat ada yang memakai baju ‘sexy’, dia akan bilang,”idih…”. Saya coba memakai kesempatan itu untuk menanamkan nilai, bahwa pakaian yang kita pakai adalah untuk memberi kenyamanan buat diri sendiri, bukannya untuk dilihat orang.

Wah ternyata, cara berpakaian yang benar juga termasuk salah satu hal yang penting dalam mendidik anak. Jadi hati-hatilah ketika shopping beli pakaian…

Papa yang tidak kukenal


Waktu saya kecil, saya dan koko dititipkan ke dlm asuhan Apoh, dan kami bertiga tinggal serumah dengan keluarga Jimmy. Karena ga ada sosok ortu, jadi saya dan koko ikut manggil 'mama' dan 'papa' ke ortunya Jimmy (mama kami kakak beradik).


Kalau ga salah, kami tinggal bersama sekitar 8-9 tahun. Seingat saya, 'papa' ini pendiam, kalo pun ngomong cuma formalitas/basa- basi (mis. udh makan?) dengan senyuman, terus setelah dijawab, dia pergi. Saya ga pernah lihat dia sampai marah besar, sabar deh orangnya, kalau omong pun ga keras2/teriak2. Sampai ketika saya, koko dan Apoh pindah ke rumah sendiri, Apoh mulai dengan komplain2nya, ktnya 'papa'nya jahat lah, tp krn saya punya gambaran sendiri ttg dia yg positif, jd ga terlalu memperhatikan. Kalo omong sama mama (kandung) saya juga, dia spt punya impresi yg kurang lah dgn 'papa' ini. Jadi ya saya ambil jalan tengah, menghindar.


Ketika kemarin saya terima telpon dr Jimmy yang mengabarkan kabar duka tersebut, saya bingung, mau sebut beliau sbg siapa krn all along saya panggil 'papa'. Makanya saya terus tergerak untuk menulis sharing ini.


Beliau bed-ridden selama 8 thn lebih. Terakhir saya ketemu beliau, pas perkawinan Jimmy, thn 2000. Waktu itu, beliau msh ok (walaupun sebelumnya pernah kena stroke), attend wedding juga, bbrp waktu stlh kami kembali ke Spore, beliau terserang stroke (yg kedua kali).


Banyak yg berkomentar, kalau beliau itu banyak dosa, makanya menderita begitu. Saya terus merenung, apa iya sih? Saya berdoa, apa sih maksudnya Tuhan, apa Tuhan juga ga apa2 (diam saja) kalau beliau sengsara begitu? Memangnya berapa besar sih dosa beliau?


Setelah mendengar khotbah Pak Ayub di Paskah subuh, ada satu kutipan ayat yang menyentuh hati saya," ...bukan dosa siapa2 tapi supaya kemuliaan Tuhan yang dinyatakan" Semalam, saya sempat menelpon koko di Jkt, ternyata beliau sudah bertahun-tahun masuk Kristen dan jd anggota gereja GKI Kayu Putih. Kalau perjamuan kudus, ada orang2 gereja yang mengunjungi dan perjamuan bersama beliau. Saya terus berpikir, puji Tuhan ya, beliau sudah percaya. Beliau meninggal juga di masa2 kita merenungkan tentang kematian dan kebangkitan Tuhan.


Pengampunan atas dosa2 kita, dosa2 yang dihapus oleh darah Yesus yang tercurah. Feelingnya bisa pas gitu, Tuhan sungguh luar biasa. Orang bisa menolak, tapi tangan Tuhan tetap terbuka menerima kita. Saya mengambil satu pelajaran penting, "yang paling penting bukan apa yang dilihat manusia, tapi apa yang dilihat Tuhan". Jadi, kalau mau dengar, dengar saja FirmanNya, kalau mau lihat, lihat saja kepada Yesus, tangannya yang penuh darah karena tertusuk paku, matanya yang penuh kasih memandang dan mengampuni. Kalo orang lain bilang, jalan lihat depan, kalo orang Kristen bilang, kalau mau selamat jalannya, lihat Yesus.


Semoga Jimmy dan keluarga bisa dikuatkan, dan semoga bisa menjadi berkat buat yang membaca dan memuliakan Tuhan. GOD bless you all.

Sunday, June 18, 2006

My Beautiful Angels



Hari ini saya dapat satu teguran yang tidak menyenangkan di gereja, tentang anak saya. Mungkin teman itu ngga bermaksud jelek, tapi nyakitin loh, dia bilang anak saya ngga tau malu.
Naluri orang tua (bukan cuma ibu, soalnya bapaknya juga sempat ikut tersinggung).
Saya sempat bilang sama suami, kalau kita sebagai ortu ikut emosional ttg anak2 kita, bisa2 ortunya yang ribut dan anak2nya cuek aja, lewat berapa hari udah main sama2 lagi.

Anak saya yang pertama, Nathania, memang anak yang special. Tergantung orang mau lihat kelakuannya dari segi mana. Kalau pd dasarnya org udah ngga senang ama dia, ya dia itu anak yang ngga bisa dikontrol. Tapi kalau org bisa terima keadaan dia apa adanya, dia itu anak yang special. Tentu saja, saya sbg ibu, yang paling tau ttg hal itu. Saya selalu bilang, memang dia itu agak aktif, tapi dia punya hati yang baik spt emas, very precious.

Waktu baru menikah, ngga lama terus hamil. Karena saya punya background masa kecil yang menyedihkan dan banyak trauma, jauh dr ortu, suka di-bully orang (kalau di-bully juga ngga berani bales, karena ngga ada yang backing-in). Jadi selama hamil, takut sekali, kadang2 sampai nangis segala. Takutnya karena ngga tau gimana caranya urusin, didik dan besarin anak. Tapi... Tuhan itu sungguh baik, hebat, luar biasa. DIA yang membimbing saya setiap saat. Kalau anak nangis, Dia bisikan penyebabnya. Kalau anak nakal, Dia yang ingetin kalau anak juga bisa stress. Kalau saya capek, Dia yang buat anak2 anteng. Makanya, teman2 suka muji kalau saya ini hebat, ngurus anak dua sendiri, tanpa pembantu. Yang hebat Tuhannya. Seperti manajer, apa yang mesti dikerjakan tiap jam sudah ada masa dan situasi yang tepat. Eh... jadi ngelantur deh. Tapi memang benar loh, Tuhan is the best.

Balik ke soal Nathania, dari kecil jasmani dia susah dikontrol. Tapi yang ajaibnya, dari dlm kandungan, dia itu suka baca Alkitab. Awalnya, tiap jam 10 malam, sebelum tidur saya suka bacain satu perikop bacaan dr buku Encyclopedia Bible for Children, ngga ada cerita, cuma dibahas tentang historical Alkitab. Pada suatu kali, saya lupa waktu karena seru ngobrol dengan suami, eh di dlm perut, dia goyang terus, sampai saya bingung kenapa ya. Terus suami, mungkin becanda juga kali, bilang, 'belum dibacain Alkitab kali', lalu saya ke kamar mulai baca, eh... benar loh dia jadi diam. Sampai sekarang pun, dia sudah Primary 1, sebelum tidur harus dibacain Alkitab, biar mamanya malas, dia akan nangis sampai dibacain. Tuhan hebat ya.

Dari hari ke hari, saya diajar banyak melalui anak saya itu, sampai saya lupa kalau saya takut sekali untuk punya anak. Dari hubungan saya dengan anak2, saya banyak belajar dan ditegur oleh Tuhan. Bukan cuma ditegur dalam hal hubungan ortu dengan anak, tapi juga hubungan saya dengan Tuhan sendiri. Bagaimana mengasihi sesama, dan mengasihi Tuhan, saya melihat iman anak2 itu dan selalu teringat perkataan Tuhan Yesus di Matius 18:3 yang bunyinya, 'And He said: "I tell you the truth, unless you change and become like little children, you will never enter the kingdom of heaven..."

Sering kali saya dan anak2 dihadapi oleh hujan deras ketika mau bepergian, sebelum pergi kami berdoa minta Tuhan untuk menghentikan hujan karena kami mau pergi, dalam nama Tuhan Yesus, Amin. Apa yang terjadi, dengan terheran2 saya melihat hujan yang begitu derasnya karena tertiup angin juga, tiba2 berhenti ketika kami mulai keluar rumah. Anak2 dengan iman mereka yang polos mengucapkan terima kasih Tuhan, dan mulai bernyanyi 'with Christ in the vessel we can smile at the storm...'

Beberapa waktu yang lalu, saya membawakan cerita Penabur Benih kpd anak2 sebelum tidur, saya bercerita, kalau benih yang ditabur di tanah subur bisa bertumbuh dengan baik, misalnya kalau kita ketemu dengan tetangga kita yang bukan Kristen, lalu kita sapa mereka, maka mereka akan punya impersi yang baik tentang orang Kristen. Setelah itu, setiap kali kami melewati rumah tetangga, Nathania selalu menegur tetangga kami. Simple, tapi terkadang kita yang dewasa terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Padahal yang kecil itu bisa jadi kesaksian buat orang lain, bertumbuh jadi pohon yang besar dan berbuah.

Masih banyak lagi cerita2 kesaksian indah dari anak2 saya yang special, makanya terkadang menyakitkan kalau ada orang yang menjelekan mereka (yang dtg dr Tuhan dan dipakai oleh Tuhan), daging juga lemah terkadang mau membalas dengan menceritakan balik kejelekan anak dr teman tersebut, tapi Tuhan bilang, 'Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.' (I Tes 5:15)

Kalau anak2 saja bisa taat dengan Firman Tuhan, bukankah kita yang jauh lebih sanggup melakukan semua perkara dibandingkan dengan anak2, seharusnya jauh lebih mampu taat dengan Firman Tuhan. Singkatnya, kalau anak kecil aja bisa, apalagi kita yang sudah dewasa.

May The Loving Father bless our lives and always be with us.

Wednesday, May 31, 2006

Doa Yang Beriman


Jika kita berbicara mengenai Doa yang beriman, maka kita tidak boleh melupakan satu elemen atau oknum yang sangat penting peranannya didalam suatu doa yaitu Roh Kudus.
Mengapa demikian? Kita akan melihat secara cepat apa dan bagaimana kaitannya antara Doa, Iman dan Roh Kudus.

1. Doa adalah komunikasi antara Sang Pencipta dengan ciptaanNYA yaitu kita manusia. Billy Graham mengatakan "doa itu ibarat seorang anak yg berbicara kepada Bapanya. Oleh karena itu sudah selayaknyalah jika si anak tsb meminta kepada bapanya". Namun konteks dari doa itu sendiri sebenarnya tidak hanya berkisar diseputar kita sebagai manusia meminta dan meminta kepada Tuhan. Layaknya sebagai suatu komunikasi maka haruslah itu terjadi secara ada dua arah. Ada saatnya kita meminta, mengucap syukur utk permintaan-permintaan kita yg sudah dikabulkan namun ada saatnya pula kita berdiam diri mendengar Bapa yg berbicara kepada kita.

2. Doa adalah napas kehidupan orang percaya. Dikatakan napas berarti doa itu sangat crucial dan penting. Coba bayangkan apa yg akan terjadi jika kita tidak bernapas. Tentunya kita akan mati bukan? Sama halnya jika kita tidak berdoa maka spritual kitapun akan mati. Secara jasmani kita membutuhkan oksigen utk bernapas. Spritual kita membutuhkan Roh Kudus yg merupakan sumber kehidupan rohani kita (Yoh 6:63). Didalam firman Tuhan Roma 8:26-27, disitu dikatakan dengan jelas sekali bahwa tanpa Roh Kudus kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa. Bahkan Roh Kudus itu sendiri yg mengajarkan kita berdoa, mengungkapkan segala pergumulan-pergumulan yg tidak terucapkan oleh kita kepada sang Bapa. Jadi disini kita dapat melihat dengan jelas bahwa Roh Kudus itu memegang peranan yg sangat penting didalam suatu doa.

3. Iman adalah bentuk dari segala sesuatu yg kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yg tidak kita lihat (Ibr 11:1). Jadi kita dapat menyamakan iman itu dengan 'kepercayaan kita yg abstract akan eksistensi Allah'. Namun iman merupakan karya Allah yg dinyatakan didalam firmanNYA melalui pekerjaan Roh Kudus yg ditanamkan didlm hati kita masing-masing.
Iman yg tulen, yg genuine adalah iman yg pasti, yg spesifik, tanpa ada unsur keraguan sedikitpun didalamnya. Oleh karena natur atau sifat dari iman yg spesifik dan pasti tsb maka doa yg didasari oleh imanpun jawabannya adalah spesifik dan pasti.
Seperti yg dikatakan didlm Mark 11: 23 : "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya". Jadi doa yg beriman adalah doa yg digerakan oleh pekerjaan Roh Kudus. Dan Roh Kudus itu sendiri mengerti akan kehendak Bapa yg spesifik. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan bahwa doa yg beriman mempunyai 2 karakteristik:

1. Selalu ada jawaban yg pasti
2. Selalu seturut dengan kehendak Tuhan

Banyak sekali contoh-contoh yg dapat kita temukan dalam Alkitab tentang doa yang beriman. Misalnya doa Hanna ketika ia meminta kepada Tuhan utk dikaruniai seorang anak laki-laki (yg kita kena sbg Samuel). Doa Eliyah ketika ia meminta agar hujan tidak turun (Yak 5:17).

Pertanyaannya adalah mengapa kok kita mesti berdoa dengan iman ya? Didalam Ibrani 11:6a, Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah". Ini berarti doa yg tidak didasari oleh iman adalah doa yg sia-sia belaka karena Tuhan tidak akan berkenan terhadap doa-doa semacam ini.
Nah kalau begitu jika kita harus berdoa dengan iman, lalu seberapa besar sih iman yg kita butuhkan utk berdoa? Didalam Matius 17:20 Tuhan Yesus mengatakan jika kita memiliki iman yg sebesar sesawi itu saja maka kita sudah dapat memindahkan gunung. Luar biasa bukan! Biji sesawi adalah biji yg paling kecil diantara semua biji-bijian. Nah kalau dengan iman yg 'sekecil' itu saja kita sudah dapat mengerjakan hal yg mustahil dilakukan oleh manusia maka pada hakekatnya iman yg seberapapun besarnya saja sudah merupakan iman. Kita tidak mengukur atau melihat iman itu dari kwantitasnya. Namun iman lebih dilihat dari segi kualitasnya. Didlm firman Tuhan disitu juga dikatakan bahwa ada orang yg imannya lemah dan ada orang yg imannya kokoh. Nah itu artinya bahwa iman itu dapat diperkokoh. Caranya bagaimana? Jika kita ingin memperkuat otot kita seperti binaragawan maka kita juga perlu latihan bukan? Sama halnya dgn iman. Kita perlu melatih iman kita juga supaya semakin bertumbuh dan kokoh. Caranya ya dengan terus bersekutu dengan Tuhan sehingga kita menjadi akrab denganNYA didalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Selalu berserah total kepadaNYA dalam hidup keseharian kita baik itu dalam keadaan suka maupun duka. Iman akan bertumbuh dan semakin kokoh lagi jika iman ketika sering mendapat tantangan.

Seperti janji Firman Tuhan didalam Markus 11:24 : "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu", berdoalah dengan tekun dengan penuh penyerahan diri dan percayalah maka DIA akan menjawab doa-doamu. [JT - Renungan Jabez, 15 Juni 2006]

Friday, May 26, 2006

Da Vinci Code



Akhir-akhir ini sedang ramai-ramainya orang membicarakan tentang Da Vinci Code. Ada yang baca bukunya dan ada juga yang nonton filmnya. Waktu suami saya mau membeli bukunya, yang harganya $20 plus, saya bilang buat apa beli buku sesat mahal-mahal, mendingan beli buku rohani buat mempertebal iman. Pagi ini saya teringat satu ayat di Mazmur 34:15 tentang, 'jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, ...' dan juga cerita tentang raja Saul yang mencari peramal untuk menanyakan kehendak Tuhan setelah Samuel mati (1 Samuel 28). Pada masa itu, semua pemanggil arwah dan peramal dilenyapkan (ayat 9), supaya bangsa Israel bersih hidupnya, tidak berhubungan dengan mereka. Sekarang iblis menggunakan film Da Vinci Code, entah bagaimana caranya, yang jelas dia cuma punya satu tujuan menjatuhkan anak-anak Tuhan dan membangun kerajaannya sendiri. Banyak cara yang dipakainya, dulu bahkan ada lagu-lagu gereja yang dibuat dengan gaya metal. Dari pertama dunia dijadikan, kelemahan manusia yang membuatnya jatuh adalah penasaran. Dengan modal penasaran itu, banyak orang yang nonton film itu atau baca bukunya, mungkin ada pendeta yang ikut nonton, pelajar Kristen, pemimpin gereja. Saya ngga menentang orang-orang yang nonton ataupun baca bukunya, tapi sama halnya dengan gereja-gereja setan, apakah kita juga join aja kebaktian mereka, setelah itu kita injili. Jangan-jangan kita yang ditarik sama mereka. Apakah dengan nonton film itu atau baca buku itu kita bisa memuliakan Tuhan? Bukankah tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan? Saya juga ngga tau banyak tentang Da Vinci Code itu, yang saya dengar orang-orang bilang sesat. Lalu yang saya ngga ngerti kenapa yang sesat dibahas? Sama ceritanya begini, kalau mau beli buku, misalnya ada dua judul, yang satu berjudul 'Ikut Setan', dan yang satu lagi 'Cara menentang godaan setan'. Buku mana yang akan kita pilih untuk dibaca? Waktu baru jadi orang Kristen yang dibaharui, saya sempet berpikir, susah banget jadi orang Kristen, setan yang menggoda pinter banget, cara apapun dia akan cari dan pakai untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan, apalagi yang imannya kuat, diserangnya juga lebih gencar, seperti Ayub. Terus, saya pikir, 'ah jadi orang Kristen yang biasa-biasa aja kalau begitu'. Tapi, Roh Kudus mengingatkan tentang penderitaan Yesus sampai di kayu salib, Dia tidak menderita untuk kita separuh jalan, tapi sampai tuntas. Dulu, saya pikir kalau iblisnya pinter begitu, pasti suatu saat saya akan terjebak dan jatuh ke tangannya, lalu manusia mana yang bisa selamat. Apakah keselamatan itu mungkin didapat? Di satu persekutuan mahasiswa, ada pembicara yang mengatakan kalau kita sebagai orang Kristen tidak tau tentang isi Alkitab, bagaimana bisa menggunakan Firman Tuhan sebagai senjata, kita tidak mengenal Firman itu jadi mana bisa menguasainya? Berapa banyak/kali kita baca buku duniawi dan berapa kali kita baca Firman Tuhan yang mungkin untuk sebagian dari kita memilikinya dari kecil. Mungkin iblis pinter cari strategi, tapi bukannya Tuhan kita lebih hebat, asal kita percaya dan mau mengikuti FirmanNya, kita pasti menang. Ada satu lagu favorit saya yang simple tapi sungguh mengingatkan saya terus kalau Tuhan Yesus akan datang ke dunia ini kedua kalinya, di mana kita, bagaimana hati dan perasaan kita terhadapNya. Biarlah lagu ini juga bisa mengingatkan kita semua, selalu.


Yesus bertanya kepada kita
adakah tempat di bumi ini?
Bila Dia datang kedua kalinya
untuk menghakimi dunia.

Reff: Apa yang kau buat
selama hidupmu
Adakah iman di hatimu?
Allah kan membebaskan umat pilihanNya
yang terus berharap padaNya.

Monday, May 08, 2006

Melayani Anak-anak Tuhan





Renungan ini diambil dari Mazmur 100. Yang membahas tentang bagaimana orang-orang Kristen pergi ke gereja, di dlm kebaktian, muka mereka seperti mendengarkan khotbah, tapi hati mereka entah di mana-mana. Ada suatu masa di mana saya merasa sudah begitu lama tidak duduk di dalam ruang kebaktian, mendengarkan khotbah dengan tenang (karena harus menjaga anak-anak yang masih kecil). Begitu lamanya.
Terakhir kali yang saya ingat, terkadang khotbah-khotbah yang didengar bagitu membosankan, yang dibicarakan itu-itu lagi, hal-hal yang sama. Puji Tuhan, Roh Kudus membantu saya melihat dengan mata iman.
Karena harus menemani anak-anak, saya jadi terlibat di sekolah Minggu. Pernah sekali saya diminta mengajar, yang saya takutkan pada saat itu adalah, "apakah anak-anak itu akan diam mendengarkan saya bercerita, at least terkontrol gitu..."
Ternyata, memang sifat manusia begitu. Waktu masih kecil di sekolah Minggu ribut, tidak konsentrasi, main sendiri. Sudah besar, di ruang kebaktian juga begitu, bedanya mereka ribut di dlm hati masing-masing.

Sebelum menikah, saya ingin sekali bisa melayani Tuhan jadi hambaNya. Tapi Tuhan punya rencana lain, Dia berikan keluarga ini untuk saya. Keluarga yang saya idam-idamkan sejak kecil, karena saya tinggal bersama nenek saya dan jauh dari orang tua yang merantau. Puji Tuhan.
Kemudian saya melayani keluarga saya ini, dan bersyukur sempat diberi kesempatan membantu pelayanan di sekolah Minggu.
Dulu, saya takut sekali masuk ke sekolah Minggu, takut sama anak-anak kecil, apalagi harus mengajar mereka, saya ngga punya kesabaran yang cukup.
Tapi setelah merenungkan yang di atas, bukankah lebih baik mengajar Firman Tuhan buat yang kecil-kecil daripada yang dewasa? Lebih mudah, tepatnya.

Anak-anak walaupun ribut tapi telinga mereka mendengar. Kalau orang dewasa, walaupun telinga mereka mendengar tapi belum tentu masuk ke dlm hati.

Saya sungguh bersukacita bisa mengerti rencana Tuhan ini dan tentunya tidak takut lagi masuk ke sekolah Minggu, gantinya tentu saja sukacita melayani.

Terima kasih, Tuhan.

Matius 21:28-32